Ruang Hampa
Mereka berkata suatu hari gadis ini akan merasakan hatinya
Jantungnya akan berdebar kencang seperti sedang lari
Mungkinkah itu terjadi? Banarkah hal itu nyata?
Aku menunggu hingga beranjak dewasa dan menunggu
Kapan perasaan itu terjadi, akankah benar terjadi padaku?
Pertanyaan-pertanyaan memenuhi pikiran
Hatiku gundah
Resah
Bimbang
Ketika beranjak dewasa rasanya aku mengerti
Ada rasa sayang setelah rasa benci
Ada rasa senang setelah sedih
Ada rasa tenang setelah rindu
Rindu
Ya kurasa memang rindu
Rindu yang membingungkan
Rindu bagai lubang
Yang terbuka di luar angkasa
Gelap, hampa, kosong
Menyedot ribuan benda kedalamnya
Berharap lubang itu tertutup
Berharap ruang hampa itu hilang
Tergantikan oleh benda-benda berkilau
-Bandung, 14 November 2017-
-sifaandriani-
Seseorang pagi ini mengatakan pada saya, "mari menulis buruk" karena dari sanalah kita akhirnya bisa menulis dengan baik. Orang yang sama juga mengatakan pada saya bahwa menulis tidaklah butuh bakat, maksudnya semua orang bisa menulis karena yang dibutuhkan adalah 90% tekad yang kuat maka tulisan itu sendiri dapat tercipta. Jujur pagi ini saya sempat merasa jengkel karena harus datang ke tempat yang saya sendiri tidak menguasai tempat itu apalagi hanya ditemani oleh teman saya yang sama-sama buta arah di tempat ini.
Pagi tadi saya harus cukup menelan rasa kecewa karena beberapa teman saya membatalkan janjinya. Tapi kemudian semua itu berubah setelah moderator membacakan puisi dengan deklamasi yang mengagumkan dan kemudian saya mendapatkan motivasi-motivasi untuk menulis. Hari ini pada pukul sembilan pagi tepatnya tiga belas jam yang lalu, saya mendapatkan pencerahan untuk menulis kembali. Sempat terpikir untuk berhenti karena terpatok pada mood yang naik turun dan merasa tidak berbakat dalam bidang tulis menulis, lalu kemudian seseorang seolah menamparku dengan kata-katanya "yang dibutuhkan dalam menulis adalah tekad. Yang paling utama bukanlah bakat ataupun mood, tapi tekad". Tahu kah kalian siapa narasumber itu? Dia adalah Bu Helvy Tiana Rose.
Saya datang ke acara Pra-Event Adha Fest yang diselenggarakan di mesjid Salman-ITB. Jujur sebenarnya atas ajakan teman tanpa tahu siapa narasumbernya, apa materi yang akan dibicarakan, dan seperti apa penyampaiannya nanti. Saya sendiri baru tahu Bu Helvy Tiana Rose ketika CV beliau dibacakan oleh moderator. Saya baru googling setelah tahu nama narasumbernya. Saya mungkin masuk jurusan pendidikan bahasa asing di salah satu universitas di Bandung, tapi saya baru saja memulai hidup di dunia bahasa beberapa bulan. Satu tahun berada di lingkungan bahasa tidak membuat saya tidak serta-merta melek sastra. Tidak, saya benar-benar kurang melek dalam hal sastra. Dalam satu tahun mungkin buku yang habis saya baca paling banyak lima buku non buku pelajaran kuliah, karena itulah yang kini melatarbelakangi ketidak tahuan saya terhadap bu Helvy dan karya sastranya.
Berawal dari ketidak tahuan, kemudian saya berhenti mencari tahu siapa sosok inspiratif ini saat beliau mulai membuka sesi tanya jawab. Tidak, bukan karena kemudian saya tidak suka terhadap pemaparannya, tidak pula pada jawaban-jawaban yang beliau berikan selama sesi tanya jawab. Saya berhenti meng-googling karena saya rasa sudah cukup saya tahu "Siapa" beliau menurut artikel di internet dan inilah waktunya menikmati apa yang ada dihadapan saya. Dari beberapa pertanyaan yang diajukan para peserta seminar, ada satu pertanyaan yang benar-benar sesuai dengan keadaan saya saat ini. Desperate terhadap karya saya sendiri. Jika ditanya apakah saya senang menulis? ya saya sangat menikmatinya, bahkan saat ini ketika saya sedang menuliskan kalimat-kalimat ini. Apakah saya orangnya penuh tekad? Terkadang tekad itu muncul dan pergi dengan sendirinya. Saat itu ada yang bertanya--seorang ikhwan--yang menanyakan tentang "bagaimana menyingkapi mood yang kadang ada kadang tidak?" dan pertanyaan itu terjawablah sudah.
Seperti yang saya katakan di paragraf awal bahwa tekad adalah no 1 dengan presentase 90%, belum lagi dengan mood yang sebenarnya tidak terlalu memengaruhi kinerja tulis-menulis yang jelas harus dilawan saat memunculkan sisi kemalasan. Hal-hal itu jelas sudah memberikan tamparan telak pagi tadi. Membuka sudut pandang saya dan memotivasi. Mulai saat ini saya rasa akan saya coba untuk mulai menuangkan segalanya yang kira-kira dapat bermanfaat dan tidak terlalu pribadi dalam blog ini. Dengan motto belajar menulis, bukannya tidak masalah kalau saya mencoba dari hal-hal kecil yang bisa saya lakukan, misalnya mereviu ulang materi perkuliahan saya di semester 3 nanti. Saya akan mencoba, setidaknya sekali ini, sebelum saya kembali menjadi orang yang tidak tergerak melakukan apapun.
Assalamualaikum ^-^
Hari ini saya come back dengan tema "don't give up on your dream" kenapa? Alasannya hanya satu, saya ingin memotivasi orang-orang yang mungkin bernasib sama seperti saya (baca post sebelumnya). Kita sebagai makhluk sosial pastinya membutuhkan orang lain dalam hidup kita, bahkan orang introvert sekalipun membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Orang bilang tidak mudah membangkitkan semangat yang sudah terkubur lama dan hidup pesimis.
Sebenarnya perasaan "tidak mungkin" adalah hal yang berupa sugesti. Terkadang kita menyerah terhadap sesuatu yang menjadi batasan bagi diri kita. Batasan-batasan itu adalah dinding pembatas yang kita bangun sendiri. Jika kita sadar bahwa kita yang membangunnya, maka pastilah kita bisa menghancurkannya. Manusia zaman sekarang sering memandang rendah diri sendiri dan mengagungkan orang lain. Padahal kita bisa melakukan hal yang lebih jika kita bisa menyadari potensi yang ada dalam diri kita. Kita bisa menjadi orang yang 'besar' jika kita mengoptimalkan kemampuan kita. Percayalah akan kemampuan kita, apa yang kita bisa, apa yang kita suka maka asah terus kemampuan itu (kecuali kalau bakat menyontek, mencuri, menjiplak karya orang lain sih jangan ya).
Kemarin saat saya sedang membuka sebuah postingan Merry Riana di Internet, ada sebuah kalimat yang menggugah semangat saya, yaitu "Jika kita bekerja keras dengan cara, niat, dan tekad yang baik kita bisa meraih impian" ya kurang lebih begitu. Dari situlah saya mulai membuka pikiran bahwa "asalkan apa yang kita kerjakan adalah kebaikan maka pasti kita bisa mencapai tujuan dengan cara yang baik pula"
Assalamualaikum, Selamat Malam
Akhirnya saya bisa mulai ngeposting lagi disini. Setelah saya lulus SMA hampir satu tahun lalu, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di jurusan bahasa perancis di salah satu universitas di Bandung yang berbasis pendidikan. Setelah dinyatakan lulus universitas tersebut, saya senang bukan kepalang karena saya masuk ke jurusan yang saya idam-idamkan. Saya yang saat itu sedang sakit pun seketika merasa langsung sehat (meski malamnya langsung kumat lagi hehe).
Saya tahu ini hanya sejenis basa-basi yang entahlah, mungkin garing/? tapi, saya hanya ingin berbagi dengan pembaca yang mungkin kebetulan lewat. <Oke Skip>
Jujur, semuanya ini tidak mudah. setelah hampir satu tahun saya menapaki jenjang perkuliahan saya masih belum bisa beradaptasi dengan baik. Suasana yang terlalu berbeda membuatku merasa berada di dunia yang berbeda. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak berinteraksi dengan orang-orang di luar rumahku, mungkin karena masih merasa asing dengan dunia yang baru. Terkadang terasa hampa, ambisi yang dulu sangat membara kini perlahan hilang dengan sendirinya. Apakah ini karena jarak rumah dan kampus yang terlalu jauh? Mungkin bisa jadi. Perjalanan yang saya tempuh saat pulang kuliah bisa menghabiskan tiga jam paling maksimal. Dan mari kita berhitung, jika saya pulang pukul lima dari kampus maka perkiraan plus macet karena lalu lintas kota dan kabupaten yang terkadang bikin keblinger hingga tiga jam, maka saya akan sampai di rumah pada pukul delapan malam. Iya pukul delapan malam, dimana keadaan di daerah kabupaten sudah sepi dan gelap.
Mungkin pembaca akan bertanya "kenapa gak ngekos?" pertanyaan yang simpel tapi nyelekit. Jujur, terkadang ada sepercik rasa ingin mencoba dunia per-kos-an, tapi mengingat uang spp kuliah yang bagi saya cukup memusingkan dan juga biaya hidup yang akan melebihi ongkos pulang-pergi menjadikan saya berpikir beberapa kali.
Hidup ini memang tidak mudah, segala sesuatu yang saya idamkan memang terjadi. Saya masih bisa kerja paruh waktu, saya mendapatkan jurusan yang saya inginkan, saya juga senang saat belajar bahasa prancis. Tapi saya juga tidak akan munafik mengatakan semuanya mudah bagi saya. Fakta bahwa saya mengalami masalah dalam komunikasi bisa memukul telak keadaan yang disebut "mending" selama ini. Interaksi bersama para senior pun akhirnya sulit. Saya yang seorang perempuan ini terkadang masih bisa disebut sangat irit ngomong. Rasanya tidak semudah dan sesimpel saat SMA.
Saat SMA saya bisa dibilang mengalami kemajuan pesat dalam hidup. Mendapatkan kehidupan sosial yang baik, memiliki teman yang cukup banyak dan dapat saling mengerti, mendapatkan ambisi, keberanian, dan kepercayaan diri yang bisa dibilang lebih baik dari keadaan saat ini. Kini saya merenung dalam diam. Hidup ini rasanya sangat tidak berguna, semuanya terlihat sudah selesai. Beberapa bulan yang lalu saya bahkan merasa hidup ini benar-benar tanpa arah, yang saya lakukan hanyalah menjadi kupu-kupu di siang hari (kuliah-pulang-kuliah-pulang) dan diselingi oleh pekerjaan paruh waktu dua kali satu minggu sebagai pengajar.
Sampai hari ini saya tergerak akan sesuatu, seseorang mengatakan "Jika kita ingin berkembang, maka carilah tantangan" dan itu seolah menyadarkan saya pada sesuatu. Selama ini saya sudah berubah menjadi pengecut yang bisanya berlindung dibalik tempurung. Saya sadar, keberanian saya untuk menyanggah, bertanya, dan meluruskan yang belok kini hampir tak berbekas. Kemana kemampuan itu pergi? kenapa harus terkubur dan akhirnya sekarat? apakah masih tersisa secercah harapan bagi saya untuk memulai semuanya ini kembali seperti dulu? Ya, saya yakin saya bisa. Saya akan berusaha untuk bangkit kembali membangunkan sang raja rimba yang dulu dapat menguasai rimba tanpa kenal takut dan pantang mundur.